Alat Baru Melacak Pencemar
Selasa, 16 Mei 2006
Para pencemar lingkungan kini tak bisa berkutik dengan alat baru yang dimiliki Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Alat spektrometer resonansi magnetik inti (Nuclear Magnetic Resonance) berkekuatan magnet 500 megahertz ini mampu mengidentifikasi struktur senyawa kimia sampai tingkat molekuler. Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Umar Anggara Jenie menyatakan satu-satunya alat spektrometer di Indonesia ini mampu memeriksa senyawa kimia sampai ukuran mikrogram. Sementara itu, alat lama, yang berkekuatan 60 dan 90 megahertz, hanya mampu mengukur paling sampai 100 miligram. "Kalau masalah pengotoran, ada material organik yang mengotori, biarpun kecil sekali, bisa kita lihat dengan mendetail," kata Umar saat memperkenalkan alat Fourier Transform-Nuclear Magnetic Resonance itu di Serpong pekan lalu. Ketua Pusat Penelitian Kimia LIPI Leonardus Broto Kardono mengatakan semua bahan pencemar bisa dilacak asalkan mempunyai unsur karbon dan proton, nitrogen, atau hidrogen. Unsur ini memiliki medan magnet yang akan diukur. "Semua bahan organik bisa karena tidak ada organik yang tidak mengandung karbon atau proton," kata Broto. Data yang diperoleh dari hasil resonansi ini akan memperlihatkan struktur molekul senyawa pencemar. "Komposisinya apa bisa ketahuan semua," katanya. "Misalnya pencemaran di Freeport tidak ada buktinya. Dengan alat ini, bisa kita buktikan." Selain menjadi alat pelacak pencemaran, alat canggih untuk mengetahui struktur molekul ini menghadirkan harapan bagi para peneliti kimia di Indonesia. Dengan hadirnya alat ini, mereka tak perlu lagi mengirimkan senyawa yang ditelitinya ke luar negeri. Pasalnya, selama ini mereka harus mengirim hasil eksperimen mereka ke Belanda, Jepang, Amerika, Inggris, atau negara tetangga seperti Singapura. "Ongkosnya mahal dan mereka minta namanya ikut dicantumkan," kata Broto. "Jadi tidak pernah ada hasil karya orang Indonesia sendiri, karena selalu dipublikasikan oleh mereka dan nama peneliti kita diikutkan. Terkadang, kalau senyawa itu aktif, kadang-kadang ditahan dan sampel tidak kembali." Dia berharap alat senilai Rp 9 miliar ini bisa meningkatkan publikasi karya peneliti Indonesia di tingkat internasional. Apalagi biayanya jauh lebih murah dibandingkan dengan pemeriksaan di luar negeri. Untuk satu sampel ditarik biaya Rp 150 ribu untuk proton, sedangkan pemeriksaan dua dimensi Rp 300 ribu dan Rp 450 ribu untuk tiga dimensi. "Di luar negeri Rp 500 ribu hanya untuk sampel proton," papar Broto. Biaya ini akan digunakan untuk menutup ongkos pemeliharaan yang lumayan mahal. Tiap 10 hari mereka harus mengganti nitrogen cair sebesar Rp 3 juta dan enam bulan sekali mengganti helium cair Rp 60 juta. "Totalnya Rp 228 juta per tahun," kata Broto. Cara kerja alat ini adalah memasukkan sampel senyawa yang mempunyai momen magnet yang diputar sehingga menimbulkan energi resonansi dan diubah menjadi energi frekuensi yang akan diukur Nuclear Magnetic Resonance. Broto mengatakan tiap molekul kimia mempunyai energi resonansi yang berbeda. Molekul flu burung, misalnya, mempunyai energi yang berbeda dengan molekul flu biasa. Untuk menghasilkan pengukuran yang sempurna, penggunaan alat ini harus dilakukan di waktu malam. "Tidak boleh ada getaran lain, seperti orang atau kendaraan berjalan, karena yang dihitung resonansinya," ujarnya.Sumber : Koran Tempo (3 Mei 2006)
|